Tampilkan postingan dengan label Daging. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daging. Tampilkan semua postingan

Rabu, Februari 06, 2013

Pengusaha: Harga Daging Mahal Karena Kebijakan Pemerintah Salah

Jakarta - Masalah daging sapi terus mendera Indonesia, mulai dari mahalnya harga hingga kongkalikong impor. Mahalnya harga daging sapi saat ini ditengarai akibat kesalahan kebijakan pemerintah.

"Kejadian saat ini memang merupakan dampak dari kebijakan pemerintah yang salah dari perhitungan suplai dan permintaan. Ketika pemerintah menurunkan kuota impor di 2011 itu masih 100 ribu ton, 2012 menjadi 34 ribu ton, itulah yang menjadi prahara terjadinya gejolak. Ini sangat kaget sekali kenapa pemerintah berani menurunkan kuota impor secara drastis begitu," kata Ketua Komite Daging Sapi Jakarta Raya Sarman Simanjorang saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (6/2/2013).

Dia mengatakan, angka impor daging sapi tahun ini yang ditargetkan pemerintah sebesar 80 ribu ton dinilai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang cukup besar.

"Jangan salah, 80 ribu ton itu dibagi dua. Sebanyak 60% dalam bentuk sapi hidup, sisanya 32 ribu ton daging sapi beku. Jadi 32 ribu ton itu dibagi 2 semester, semester satu 60% atau 19.200 ton. Semester dua sekitar 12.100 ton. Harusnya semester dua lebih banyak karena ada hari-hari besar agama. Ditambah 80% kuota impor diserap di Jakarta karena konsumsinya sangat tinggi," terangnya.

Apalagi, kata dia, pemerintah sudah menyatakan konsumsi daging per kapita masyarakat Indonesia tahun ini naik menjadi 2,2 kg per kapita per tahun, dibanding tahun lalu yang hanya 1,9 kg per kapita per tahun.

"Bedanya 3 ons dikali 430 juta jiwa. Ini kebutuhan semakin tinggi," kata Sarman.

Namun, kata dia, pemerintah mengaku berdasarkan hasil sensus terdapat 14,8 juta ekor sapi dan 4,7 juta ekor sapi di Jawa Timur yang siap potong.

"Itu hasil sensusnya. Jatim itu lumbung sapi nasional. Pertanyaannya, apakah sapi-sapi itu layak dijadikan stok? Itu punya masyarakat bukan pemerintah. Masyarakat menjadikan sapi sebagai tabungan bukan industri. Sapi itu tidak akan dijual, sedangkan dunia usaha tidak bisa menunggu itu. Jadi ngga bisa dijadikan stok," kata dia.

(dnl/dnl)


View the original article here

Kementan: Daging Ayam Jauh Lebih Sehat dari Daging Sapi

Jakarta - Kementerian Pertanian berdalih, konsumsi daging ayam jauh lebih bermanfaat di tengah mahalnya harga daging sapi saat ini. Bahkan daging ayam dianggap lebih menyehatkan.

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro dalam acara 'Kelangkaan Daging Sapi di Indonesia' yang diadakan di Gedung KPPU, Jakarta, Rabu (6/2/2013).

"Daging ayam jauh lebih sehat tetapi perlu juga kita makan daging sapi," ungkapnya.

Untuk itu Syukur mengimbau kepada masyarakat, untuk pemenuhan kebutuhan akan protein, daging sapi bukan satu-satunya pilihan. Tetapi ada daging ayam, telur ayam, dan lain-lain.

"Propaganda terlalu berlebihan jika tidak makan daging sapi kita tidak cerdas," katanya.

Bahkan dia berujar, di tahun ini pasokan ayam di Indonesia banyak dan tidak terbatas.

"Tahun 2013 ini ayam sangat banyak dan tidak terbatas, mau beli berapa piringpun tetap ada," ujarnya.

(wij/dnl)


View the original article here

Pengelola Supermarket Curhat Kekurangan Pasokan Daging

Jakarta - Kalangan pengelola supermarket/swalayan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengaku kesulitan mendapatkan pasokan daging sapi saat ini. Harga daging sapi ketika didatangkan sudah cukup tinggi.

"Pasokan daging kita saat ini kurang 20-30% dan harga melambung 30%. Harga tinggi sudah terjadi dari pasokan," ungkap Wakil Sekjen Aprindo Satria Hamid di Gedung KPPU, Jakarta, Rabu (6/2/2013).

Menurut Satria, hal ini disebabkan pasokan daging sapi yang berkurang drastis. Padahal untuk tahun ini, setidaknya supermarket/swalayan membutuhkan pasokan 17.200 ton daging.

"Tahun 2012 kebutuhan kita 12.700 ton untuk anggota Aprindo, yang meliputi kebutuhan supermarket sebanyak 6.200 ton, dan hypermarket sebanyak 6.500 ton dan kebutuhan tahun 2013 naik 30% yaitu 17.200. Kami saat ini kesulitan untuk mendapatkan stok secara berkelanjutan," katanya.

Walaupun pihak Aprindo sudah bekerjasama dengan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) moderen, namun pasokan daging yang didapat belum juga maksimal.

"Kami juga punya konsumen kelas tinggi atau konsumen premium. Kami bekerjasama dengan RPH moderen tetapi ini masih belum bisa dipenuhi secara maksimal. Kami akan senang jika bisa dipasok dari sapi lokal. Tetapi distribusi dan infrastruktur belum terpenuhi," tandasnya.

(wij/dnl)


View the original article here